Kemenangan satu paradigma atas paradigma lain,lebih disebabkan karena
para pendukung paradigma yang menang itu lebih memiliki kekuatan dan
kekuasaan (power),dari pada pengikut paradigma yang dikalahkan,dan
sekali lagi bukan karena paradigma yang menang tersebut lebih benar atau
lebih baik dari pada paradigma yang dikalahkan.
Kapitalisme
sedang menggali kuburnya sendiri! Begitu bunyi salah satu pernyataan
yang diucapkan salah seorang filosof, sosiolog dan ekonom terkemuka abad
ke-19, Karl Marx. Paralel dengan pendapatnya itu dalam The German
Ideology (1846) ia menegaskan bahwa sosialisme sebagai antitesis
kapitalisme, penghapusan hak milik pribadi, bukan lagi sekadar tuntutan
etis melainkan telah menjadi sebuah keniscayaan objektif. Marx
mendasarkan teorinya tersebut pada premis dasar bahwa pada hakikatnya
perkembangan kehidupan bidang politik dan kesadaran masyarakat (bangunan
atas) ditentukan oleh perkembangan kehidupan di bidang ekonomi Itulah
mengapa Marx menyebut teorinya sebagai materialisme historis. Sementara
itu, perkembangan kehidupan bidang ekonomi dalam masyarakat kapitalis
sendiri ditentukan oleh pertentangan kelas, yakni antara kelas pemilik
modal (kapital) dan kelas pekerja. Seiring berjalannya waktu,
pertentangan di atas akan dipertajam oleh kemajuan teknik produksi. Dan,
pada akhirnya, pertentangan tersebut akan meledak dalam sebuah revolusi
sosial dan akan mengubah struktur kekuasaan di bidang ekonomi, tidak
akan ada lagi hak milik pribadi. Akhir dari perjalanan sejarah umat
manusia—menurut Marx—adalah masyarakat sosialis.
Namun
ternyata, hingga hari ini tak ada tanda-tanda bahwa kapitalisme akan
goyang apalagi runtuh. Sebaliknya, pada akhir abad ke-20 ini justru
komunismelah (manifestasi ideologi marxisme) yang tampak kehilangan
dayanya. Pukulan pertama diderita komunisme dengan runtuhnya Partai
Komunis Indonesia (1965). Tiga puluh empat tahun kemudian (1989) satu
demi satu rezim-rezim komunis di Eropa Timur runtuh: mulai dari
Polandia, Bulgaria, Jerman Timur, Cekoslovakia dan akhirnya Rumania.
Tiga tahun kemudian (1991), Uni Soviet (negara adikuasa kedua sebagai
simbol komunis dunia) pecah menjadi 14 Republik Independen.
Teori
materialisme historis Marx memang tampak telah menemukan ajalnya.
Namun, apakah dengan demikian, dengan sendirinya seluruh pemikiran Marx
absurd tak berguna? Sejarah membuktikan “tidak”! Menguatnya posisi buruh
pada abad ini dibanding seabad yang lalu tak dapat disangkal merupakan
buah sumbangan pemikiran sosialisme pada umumnya dan pemikiran Marx pada
khususnya. Sebagian besar gerakan buruh dan pembebasan sosial
disemangati oleh ideologi marxisme.Kritik Marx atas ideologi kapitalisme
telah menjadi inspirasi gerakan-gerakan itu. Dari sanalah muncul
kekuatan-kekuatan buruh dalam bentuk organisasi-organisasi untuk
mengimbangi dominasi para pemilik modal sehingga para buruh tersebut
bisa mendapatkan hak-haknya secara wajar.
Salah satu
ajaran Marx yang menjadi pokok utama kritik kapitalisme adalah ajarannya
tentang nilai lebih. Bertolak dari ajaran nilai lebih itulah Marx
menunjukkan betapa sistem kapitalisme pada hakikatnya adalah sistem yang
eksploitatif, penghisapan manusia atas manusia.
Tulisan ini
hendak menyoroti secara kritis ajaran nilai lebih yang diajarkan Marx di
atas. Sebagai salah satu kaki ideologi besar (sosialisme), ajaran ini
perlu dipahami dengan sikap kritis agar kita tidak jatuh pada
ekstremisme picik, mendewa-dewakan kritik atas ideologi
kapitalisme—seolah-olah kapitalisme tak boleh mendapat tempat dalam
sejarah peradaban—tapi sekaligus juga agar kita tidak jatuh pada
pengagung-agungan kapitalisme yang walaupun secara empiris-historis
memang terbukti telah membawa kemajuan peradaban seperti yang kita lihat
saat ini.




Post a Comment