MATERIALISME adalah paham ajaran yang menekankan keunggulan
faktor-faktor material atas yang spiritual dalam metafisika, teori
nilai, fisiologi, epistimologi atau penjelasan historis. Ada beberapa
macam materialisme, yaitu materialisme biologis, materialisme parsial,
materialisme antropologis, materialisme dialektis, dan materialisme
historis.
Karl Marx (1818-1883) tokoh utama yang mengaitkan
filsafat dengan ekonomi. Dalam pandangannya, filsafat tidak boleh
statis, tetapi harus aktif membuat perubahan-perubahan karena yang
terpenting adalah perbuatan dan materi, bukan ide-ide (hal ini berbeda
dengan Hegel). Manusia selalu terkait dengan hubungan-hubungan
kemasyarakatan yang melahirkan sejarah. Manusia adalah makhluk yang
bermasyarakat, yang beraktivitas, terlibat dalam suatu proses produksi.
Hakikat manusia adalah kerja (homo laborans, homo faber). Jadi,
ada kaitan yang erat antara filsafat, sejarah dan masyarakat. Pemikiran
Karl Marx ini kemudian dikenal dengan Materialisme Historis atau
Materialisme Dialektika.
Pandangan Karl Marx di atas mendapat
reaksi yang beragam-ragam di Indonesia. Mengapa? Karena materialisme
adalah ajaran Marxisme, yang pada dasarnya memiliki pemikiran sejalan
dengan positivisme. Sesungguhnya perintis pemikiran ini bukan hanya Karl
Marx, tetapi juga Friedrich Engels (1820-1895). Mereka berdua banyak
mendapat inspirasi (terutama metode dialektikanya) dari filsuf Jerman
yang sangat berpengaruh, yaitu GWL Hegel (1770-1831). Marx adalah tokoh
pertama yang mengaitkan filsafat dengan ekonomi. Dalam perspektifnya,
filsafat tidak boleh statis, tetapi harus aktif membuat
perubahan-perubahan karena yang terpenting adalah perbuatan dan materi,
bukan ide-ide (hal ini berbeda dengan Hegel). Jalan pemikiran Karl Marx
tersebut menjelaskan pandangannya tentang teori pertentangan kelas,
sehingga pada perkembangan berikutnya melahirkan komunisme.
Dalam
realitas, Marxisme adalah suatu gagasan yang menarik untuk dicermati
dari sudut pandang sains oleh kaum intelektual dan mahasiswa. Namun bagi
pemerintah dan mayoritas bangsa, Marxisme adalah ajaran sesat dan tak
bermoral yang bertentangan dengan ideologi negara kita Pancasila, dan
UUD 1945. Kuatnya indoktrinasi pemerintah di era orde baru menyebabkan
sejumlah intelektual dan mahasiswa hanya mempercakapkannya dalam area
kampus. Itu pun hanya semata-mata dalam perspektif Marxisme sebagai
gagasan dalam konteks sains. Namun, sulit untuk memungkiri bahwa
gagasan-gagasan kaum mahasiswa di era orde baru yang bernyali berteriak
lantang memprotesi berbagai kebijakan pemerintah yang konon katanya
sarat dengan korupsi, kolusi dan nepotisme, dan kuatnya peranan militer
(militerisme) dalam mengamankan legitimasi kepemimpinan Orde Baru di
pundak Presiden Soeharto, boleh dapat dikatakan bernafaskan roh atau
jiwa dari gagasan Marxisme. Argumen ini mengemuka karena pada era itu
yang menjadi value demokrasi Indonesia adalah musyawarah untuk mufakat,
bukan demonstrasi, apalagi people power.




Post a Comment