Memory Anak Kos part 1
Kadang aku bingung untuk
memahami lebih jauh lagi mengenai kebahagiaan, semata mata kebahagiaan
juga selalu menjadi kambing hitam dalam kisah percintaan, rumah tangga
atau hal lainnya. apakah bahagia itu salah satu bentuk dari kepuasan
yang hadir ketika kita mendapatkan satu anugrah?? atau kebahagiaan itu
sebuah rasa yang datang dengan tiba tiba tanpa kita sadari??dan banyak
kasus perceraian yang ada dengan alasan kurang bahagia.
Ketika
aku mulai memaknai sebuah kebahagiaan ku coba memulainya dari diriku
sendiri, bahkan aku tidak tau aku ini bahagia atau tidak, lalu aku
memulainya dari seseorang yang aku anggap mampu ( secara materi ) akan
tetapi tak tampak juga kebahagiaan itu pada raut wajah yang selalu
berkerut ketika berjalan, dahi yang enggan datar dalam kecerahan air
segar masjid. kapan hari aku berjalan di salah satu pasar daerah sekitar
kampusku, tampak anak muda yang bebas merdeka ( Preman ) duduk-duduk di
pinggir jalan, dengan sebatang rokok di tangan, matanya menatap ke arah
kiri kana seakan akan mencari mangsa untuk di terjang. kelihatannya
badanmu yang kekar dengan raut wajah menakutkan dan tampak bebas
merdeka, kau juga belum menunjukan sedikitpun ciri kebahagiaan padaku.
walau kau tertawa terbahak-bahak bersama kawan-kawanmu bagiku itu hanya
hiburan kecil untuk menutupi segala kepedihanmu.
Karena
saking bingungnya aku pada waktu itu, aku berjalan dari kos kosan menuju
jalan besar, di sepanjang perjalanan terdapat ruko ruko kecil yang
berisikan banyak produk, haasshhhh melihatnya begitu bernafsu untuk
mengejar dollar di sore itu. dengan belaga gaya bahasa remaja masjid
"sore sore, wayae ibadah kok kerjo ae" dan hingga akhirnya berhenti aku
di salah satu penjual mie ayam. dengan sopan bapak menawarkan " Mie
Mas?? " dengan kaos partai seorang bapak itu mulai membuatku bertanya
tanya, beliau hanyalah seorang penjual mie ayam, tp senyumnya serasa
ikhlas. awalnya aku berfikir ini hanyalah strategi saja untuk melayani
pelanggan. tidak lama dari itu seorang anak menggunakan busana muslim
lengkap dengan tas punggung datang dan berucap " Assalamualaikum "- "
Wa'alaikumsalam " di ciumnya tangan ayah ibunya. karena sudah bundel
rasanya di kepala aku lontarkan pertanyaan ke bapak itu, "putrane king
pundi pak" ------- " Ngaos Iqro' mas, teng masjid, gurune lare lare
STAIN niku" perbincangan panjangpun terjadi, tampak ketulusan hati, rasa
syukur pada MAHA PENCIPTA tidak habis habisnya selalu di lontarkan.
kemudian aku mulai beranjak pergi dan semakin dalam lagi merasakannya.
Kebahagiaan???
dalam menjalin rumah tangga tentunya akan merasakan suka duka, dan hal
ini akan di iringi dengan doa, rasa syukur dan sabar. Nah mulai
tampak.... suka duka adalah bagian kecil dari kebahagiaan. Tentunya
ketika kau selalu ingat Allah SWT, kau tunjukan syukurmu, sabarmu,
ikhlasmu dengan perbuatan. Maka Kebahagiaan itu selalu ada untuk kita
semua. Amin....
Memory Anak Kos part 2
Ada
lagi kawan mengenai perhatian. dalam percintaan, cew cerewet juga
beralasan bahwa karena dia perhatian dengan cowoknya, larang ini itu
juga karena dia ingin menunjukan sebuah perhatian, aduh ribet kalo
setiap kata mulai di dalami lebih jauh kayak gini. ok next........
sebenernya ini di mulai dari materi psikologi komunikasi yang waktu itu
sempat menjadi mata kuliahku, akan tetapi buku itu membuatku bertanya
tanya, semakin di baca semakin menimbulkan banyak pertanyaan, padahal
buku itu ngepet di perpus :D
Akan lebih baik lagi ketika
masalah perhatian itu mengacu pada pola pendidikan orang tua terhadap
anaknya, kalo masalah percintaan saya kira saya tidak terlalu fasehhh
secaara saya ini salah satu pemuda yang pendiam dan sangat lugu sekali
:D. ok next.....
kadang kala orang tua / calon orang tua
akan memimpikan anaknya sukses, nomer 1 atau apa ajalah yang
keren-keren. tp jangan lupa kebebasan terhadap anak itu ternyata lebih
penting, mengutip sedikit dalam ingatan yang merekam kata kata jalaludin
rahmad bahwa penekanan terhadap anak didik dalam mengejar suatu
targetan itu berakibat fatal ketika kita tidak mampu memahami anak.
setiap anak punya cita cita, dan cita cita itu di tentukan oleh anak itu
sendiri, kadang berdasarkan skil / kemampuan yang mereka miliki, bukan
berdasarkan nafsu orang tua.
Dan akan lebih baik lagi
ketika kita mampu memahami PERHATIAN Sebagai bentuk perbuatan yang
selalu saja ada di saat anak itu suka ataupun duka. Ingatkan dia,
motivasi dia, pahami dia, beri dia kecupan kecupan kecil.




Post a Comment